Saat itu TNI AL yakni Koarmada II melaksanakan latihan L3 terpadu salah satunya penembakan rudal C-802. Dilanjutkan dengan menembakkan torpedo SUT kepala Perang oleh KRI Nanggala. Sebelum dilaksanakan penembakan kepala Perang, dilaksanakan dulu pelaksanaan latihan penembakan torpedo SUT kepala latihan yaitu pada tanggal 21 April 2021.
Pukul 03.00 WIB KRI nanggala-402 mulai melaksanakan proses menyelam. Saat itu masih terlihat Oleh Sea Rider Kopaska bagian dari kapal selam. Tampak saat proses menyelam yaitu periskop dan lampu pengenal dari KRI Nanggala-402.
Pada sekitar pukul 05.15 WIB KRI Nanggala 402 belum muncul dan komunikasi tidak terjalin. Sehingga pada 05.16 WIB dilaksanakan prosedur sublook. Kemudian pada tanggal 24 April pukul 15.00, TNI AL menyatakan bahwa KRI Nanggala 402 dinyatakan subsunk (tenggelam). Pada tanggal 25 April pukul 09.04 Wita ROV KRI rigel dan MV swift reescue milik singapura mendapat kontak visual dari KRI Nanggala-402 pada kedalaman 838 meter.
Pakar Kapal Selam dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Wisnu Wardhana menjelaskan 3 faktor penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402 milik TNI AL sedalam 850 meter di perairan Bali.
Ketiga faktor itu adalah tidak berfungsinya Air Ballast yang dapat mengatur ketinggian penyelaman kapal, tidak berfungsinya hydroplane atau sayap di badan kapal dan rusaknya Pressure Hull yang membuat kapal tersebut akhirnya hancur karena besarnya tekanan air.
Pada kedalaman yang melebihi ambang batas itu, struktur pelindung kapal, Pressure Hull yang ia sebut menyerupai cangkang telur dapat hancur karena mendapatkan tekanan hidrostatistik.
Wisnu menjelaskan lapisan yang menyerupai telur itu diatur dalam ukuran sebesar 1 atmosfer. Jika diremas dari luar dan melebihi kemampuan maksimum, maka telur itu akan pecah
Di samping itu ia menjelaskan, di setiap kapal selam tidak memiliki teknologi yang dapat memberikan rekaman perjalanan dan percakapan di dalam kapal seperti Black Box layaknya di pesawat terbang yang dapat membantu identifikasi kecelakaan kapal.
Menurutnya, identifikasi masalah dapat dilakukan apabila bangkai kapal selam Nanggala-402 sudah di tarik ke darat. Dari rangka dan serpihan yang ditemukan itu, barulah dapat diidentifikasi apa yang terjadi pada kapal selam milik TNI AL itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar