Munculnya AI seperti munculnya listrik di Indonesia, sesuatu yang masif fungsinya dan mengubah kehidupan manusia. AI memang sudah ada sejak lama, tetapi saat itu fungsinya sangat sederhana tidak seperti yang telah berkembang saat ini. Contohnya seperti memberi rekomendasi belanja, musik, atau semacamnya. Tapi sekarang fungsi dari AI bahakan sempat di prediksi dapat menggantikan pekerjaan manusia. Salah satu yang tidak dapat tergantikan oleh AI adalah kreativitas, kemampuan berpikir strategis dan cerdik. AI hanya bisa merangkum atau menganalisa dari suatu data yang telah ada, AI tidak bisa menciptakan sesuatu yang baru. Kedua adalah rasa kemanusiaan, empati tidak bisa dilakukan oleh AI. contoh sederhananya beberapa orang menjadikan AI sebagai teman curhat, karena dirasa AI lebih memahami diri mreka dibandingkan yang sesama manusia. Padahal yang terjadi adalah AI hanya meniru kata-kata yang pernah dilihat, AI tidak benar-benar menjuwai itu.
Cara menghadapi AI di kehidupan, dengan mempunyai skill membangun diri di kedua bidang tersebut, yaitu kreativisa dan kemanusiaan. Apabila keduanya tidak ada maka rentan sekali diambil alih oleh AI.
Kuadran Era AI: Kreativitas × Kemanusiaan

-
Bawah kiri (AI murni, tanpa manusia – Compassion not needed, Optimization):
-
Contoh: Amazon (logistik, gudang, sistem otomasi).
-
Karakteristik: pekerjaan ini sepenuhnya bisa dioptimalkan oleh AI/robot, tidak memerlukan empati manusia maupun kreativitas tinggi. Fokus utamanya efisiensi.
-
Bawah kanan (AI dominan, manusia pendamping – Compassion not needed, Creativity/Strategy):
-
Contoh: Arsitek/Desainer.
-
Karakteristik: pekerjaan berbasis kreativitas, tetapi AI bisa membantu dengan memberikan referensi, simulasi, dan alternatif desain. Manusia tetap memegang peranan karena kreativitas murni sulit digantikan.
-
Atas kiri (Manusia dominan, AI pendamping – Compassion needed, Optimization):
-
Contoh: Dokter.
-
Karakteristik: membutuhkan empati dan kemanusiaan, karena menyangkut pasien. AI berperan sebagai alat bantu diagnosis, analisis data, dan optimisasi layanan, tetapi keputusan akhir tetap di tangan manusia.
-
Atas kanan (Human + AI, Compassion needed, Creativity/Strategy):
-
Contoh: Pimpinan organisasi/leader/CEO.
-
Karakteristik: membutuhkan kreativitas tinggi dalam strategi dan juga sisi kemanusiaan dalam memimpin orang. AI hanya berfungsi sebagai pendukung dalam pengolahan data dan analisis, tetapi kepemimpinan sejati harus dipegang manusia.
Mengapa Kampus NU harus Memimpin?
Ada tiga poin penting yang dibahas:
- Kemaslahatan (Teknologi untuk martabat manusia). Maksudnya, Kampus NU menggunakan teknologi bukan hanya untuk keuntungan semata, tetapi untuk memberikan manfaat bagi manusia, menjaga penghargaan terhadap martabat manusia, serta mendorong kemajuan yang menyehatkan dan bermanfaat bagi masyarakat.
- Pengarah Arus (Mengawal etika, akses, dan dampak sosial). Kampus NU harus menjadi pengawas dalam penggunaan teknologi, agar tidak dipakai secara salah. Teknologi tidak boleh diabaikan dari aspek etika, keadilan dalam akses, serta dampak sosial. Mahasiswa dan seluruh civitas akademika diarahkan untuk menjadi pengendali, bukan sekadar pengekor perkembangan teknologi.
- Kompas NU (Teknologi menguatkan akhlak pelayanan, dan keadilan). Teknologi digunakan sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai baik seperti akhlak mulia, pelayanan kepada sesama, serta menciptakan keadilan.
“Kita bukan sekadar pengguna teknologi, tapi pengarah arus.”
Kampus NU tidak hanya ikut-ikutan perkembangan zaman, tapi aktif mengarahkan, memberi contoh, dan memimpin penggunaan teknologi sesuai dengan nilai kemaslahatan, etika, dan keadilan. Kampus NU diharapkan menjadi pengarah moral yang mengarahkan penggunaan teknologi sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman.
Penggeseran Keterampilan seperti hafalan dapat terjadi akibat AI. Karena manusia justru dapat berkolaborasi dengan AI, AI mampu memformulasikan masalah, berejoerimen cepat, tapi tidak mampu mendeliverkan dengan kreativitas dan kemanusiaan. Maka dari itu manusia harus bisa memanfaatkan AI dengan baik, seperti tetap mengedepankan adab dan menganggap AI sebagai akses pembantu bukan pengganti. AI tidak bisa mempertanggung jawabkan keputusan AI.
Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi
Oleh:Dr. S.H Nurul Ghufron S.H., M.H

Kecintaan kepada dunia membuat manusia jatuh terjerumus dalam korupsi. Ilmu yang utama adalah mencari Allah Swt. Hilangnya integritas menimbulkan dampak yang sangat serius, terutama bagi sumber daya manusia dan harapan yang hancur. Selain itu dalam United Nation Convebtion Against Corruption terdapat beberapa dampak dari korupsi, diantaranya:
- Merusak Proses Demokrasi
- Meruntuhkan Hukum
- Menurunkan Kualitas Hidup/Pembangunan Berkelanjutan
- Menyebabkan Kejahatan Lain Berkembang
- Pelanggaran Hak Asasi Manusia
- Merusak Pasar, Harga, dan Persaingan Usaha yang Sehat
- Segala kewanenganannya di perjual belikan, seperti keadilan dan semacamnya. Akibatnya yang awalnya melayani jadi menindas
Jenis Korupsi ada 3, pertama Grand Corruption yaitu korupsi besar-besaran seperti tambang. Kedua Petty Corruption yaitu korupsi kecil seperti membayar saat tertilang. Dan yang ketiga adalah Political Corruption, seperti dibayar ketika pemilu,
Faktanya hingga tahun 2024 kasus korupsi masih kerap terjadi, sekitar 20%-30% anggaran masih dinkorupsi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hingga tahun 2015 86% pelaku korupsi adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan perguruan tinggi (S1)
Karakter patriotis bangsa semenjak kemerdekaan yang perlahan terkikir akibat keserakahan.
- Kecintaan pada tanah air
- Kerelaan pengorbanan tenaga, harta dan jiwa
- Kesatuan dalam keragaman berbangsa
- Saling Menghargai dan solidaritas
- Kesederhanaan
- Kemandirian
Maka dari itu memiliki prinsip dan karakter sebagai pegangan untuk menghindari keserakahan tersebut sangat berarti, dan hidup di era saat ini. Mulai dari melakukan hal-hal sederhana secara konsisten untuk membentuk sebuah karakter yang baik. Contoh hal sederhana yang dapat dilakukan sebagai mahasiswa adalah menghindari keterlambatan, plagiat atau mencontek, menyalalahgunakan beasiswa, dan jujur.
“Didiklah anaknu sesuai dengan zamannya, sungguh mereka akan menghadapi masa depan yang berebeda dengan zamanmu.” (Ali bin Abi Thalib)
Mahasiswa UNUSA Sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah
Oleh: KH Ma'Aruf Khozin - Ketua Aswaja Center, PWNU Jawa Timur
Ahlussunnah Wal-Jamaah merupakan istilah yang terbentuk dari tiga komponen:
- Ahlun adalah pengikut
- Al-sunnah adalah metode beragama yang telah dijalani oleh nabi, sahabat, dan para imam madzhab.
- Al-Jamaah
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang dianut oleh Nahdlatul Ulama, ada tiga pilar utama yang menjadi pegangan hidup, yaitu akidah, fikih, dan akhlak atau tasawuf.
Pertama, dalam bidang akidah, NU merujuk pada pemikiran Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Keduanya menekankan keseimbangan antara wahyu dan akal, sehingga keyakinan umat Islam tetap lurus sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW.
Kedua, dalam bidang fikih, NU menghormati dan mengambil manfaat dari empat mazhab besar, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Namun, dalam praktik sehari-hari, mayoritas masyarakat NU berpegang pada mazhab Syafi’i. Hal ini menunjukkan keterbukaan NU terhadap khazanah keilmuan Islam klasik sekaligus menjaga konsistensi dalam beribadah.
Ketiga, dalam bidang akhlak atau tasawuf, NU merujuk pada tokoh-tokoh sufi besar seperti Al-Junaid al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali. Dari merekalah diajarkan pentingnya pembersihan hati, kesederhanaan, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga agama tidak hanya sebatas keyakinan dan ibadah, tetapi juga tercermin dalam perilaku.
Pola pikir dan sikap NU yang pertama adalah Fikrah tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan i tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. Nahdlatul Ulama tidak tafrith atau ifrath (ekstrim kanan dan kiri). Dan kedua adalah Fikrah tasamuhiyah (pola pikir toleran), artinya Nahdlatul Ulama dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.
Tanda orang NU adalah Yasinan setiap malam jumat, ngaji di Makam, ziarah kubur, salawatan karya para ulama, dzikir bagi orang wafat, tahlil, sedekah makanan untuk almarhum, dan zikir pemakaman.